Versi Normal BAB4SOS
40 visibility 0 comment

JENIS KATA / TERM DEFINISI / PENJELASAN
PERILAKU Perilaku Menyimpang Perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. Pelaku disebut deviant.
PERILAKU Deviant Sebutan bagi pelaku perilaku menyimpang, yaitu orang yang tindakannya tidak sesuai norma sosial.
PERILAKU Definisi Perilaku Menyimpang (Robert M.Z. Lawang) Semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari masyarakat untuk memperbaiki perilaku tersebut.
PERILAKU Norma Aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat; berfungsi mengatur dan mengendalikan perilaku demi terciptanya keteraturan sosial.
PERILAKU Nilai Konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan buruk; menjadi pedoman berperilaku dalam masyarakat.
CIRI-CIRI Bisa Diterima dan Ditolak Ciri perilaku menyimpang yang menunjukkan bahwa suatu perilaku menyimpang bisa saja diterima oleh sebagian kelompok namun ditolak kelompok lain.
CIRI-CIRI Bersifat Relatif Perilaku menyimpang tidak selalu sama di setiap tempat dan waktu; sesuatu yang dianggap menyimpang di satu masyarakat mungkin dianggap normal di masyarakat lain.
CIRI-CIRI Pelanggaran Terhadap Norma Ciri utama perilaku menyimpang: tindakannya bertentangan atau melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
CIRI-CIRI Dapat Bersifat Mutlak Ada perilaku menyimpang yang dianggap mutlak salah di manapun dan kapanpun, seperti pembunuhan atau kejahatan berat lainnya.
BENTUK-BENTUK Penyimpangan Primer Penyimpangan yang dilakukan seseorang, akan tetapi si pelaku masih dapat diterima oleh masyarakat; sifatnya sementara dan tidak berulang terus-menerus.
BENTUK-BENTUK Penyimpangan Sekunder Penyimpangan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga para pelakunya dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang oleh masyarakat.
BENTUK-BENTUK Penyimpangan Individual Penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau individu tertentu terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
BENTUK-BENTUK Penyimpangan Kelompok Penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok orang secara bersama-sama terhadap norma-norma masyarakat.
TEORI-TEORI Teori Labelling Teori yang menjelaskan bahwa seseorang menjadi menyimpang karena diberi label/cap oleh masyarakat sebagai deviant, sehingga ia menginternalisasi label tersebut dan berperilaku sesuai cap yang diberikan.
TEORI-TEORI Teori Diferential Association Teori dari Edwin H. Sutherland yang menyatakan bahwa perilaku menyimpang dipelajari melalui interaksi dan pergaulan dengan orang-orang yang berperilaku menyimpang; penyimpangan bersumber pada proses alih budaya.
TEORI-TEORI Teori Konflik Teori yang memandang perilaku menyimpang sebagai hasil dari konflik antar kelompok dalam masyarakat, di mana kelompok yang berkuasa mendefinisikan perilaku kelompok lain sebagai menyimpang.
TEORI-TEORI Teori Struktur Sosial Teori yang menjelaskan bahwa perilaku menyimpang muncul akibat ketidaksesuaian antara tujuan budaya yang dianut masyarakat dengan cara-cara yang tersedia untuk mencapainya (strain/tekanan struktural).
TEORI-TEORI Edwin H. Sutherland Sosiolog pencetus Teori Diferential Association; berpendapat penyimpangan dipelajari dari pergaulan dengan orang yang berperilaku menyimpang, contohnya siswa terlibat tawuran karena berteman dengan siswa yang suka berkelahi.
NILAI Nilai Sosial (Soerjono Soekanto) Nilai sebagai konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan buruk; nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat.
NILAI Nilai Sosial (Robert M.Z. Lawang) Nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga, dan memengaruhi perilaku sosial orang-orang yang memiliki nilai tersebut.
NILAI Konstruksi Masyarakat Ciri nilai: nilai merupakan hasil interaksi antarwarga masyarakat, bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir.
NILAI Disebarkan Antar Warga Ciri nilai: nilai disebarkan dan diwariskan dari satu warga ke warga lain dalam masyarakat melalui sosialisasi.
NILAI Terbentuk Melalui Sosialisasi Ciri nilai: nilai tidak ada sejak lahir, melainkan terbentuk dan dipelajari melalui proses sosialisasi dalam keluarga dan masyarakat.
NILAI Bagian dari Pemenuhan Kebutuhan Ciri nilai: nilai merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia.
NILAI Memengaruhi Perkembangan Diri Ciri nilai: nilai dapat memengaruhi perkembangan diri seseorang secara sosial dan kepribadian.
NILAI Berkaitan Satu Sama Lain Ciri nilai: nilai-nilai dalam masyarakat cenderung saling berkaitan dan membentuk sistem nilai yang lebih besar.
PEMBAGIAN Nilai Material Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang berguna bagi unsur fisik manusia; relatif mudah diukur dengan alat ukur. Contoh: makanan, air, dan pakaian.
PEMBAGIAN Nilai Vital Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan dan aktivitas. Contoh: buku dan alat tulis bagi pelajar atau mahasiswa.
PEMBAGIAN Nilai Kerohanian Nilai yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia; dibagi menjadi tiga: nilai kebenaran (bersumber akal), nilai keindahan (bersumber rasa estetis), dan nilai kebaikan/ moral (bersumber kodrat manusia).
PEMBAGIAN Nilai Kebenaran Bagian dari nilai kerohanian; nilai yang bersumber pada akal manusia (rasio, budi, cipta).
PEMBAGIAN Nilai Keindahan Bagian dari nilai kerohanian; nilai yang bersumber pada rasa keindahan (estetis) manusia.
PEMBAGIAN Nilai Kebaikan / Moral Bagian dari nilai kerohanian; nilai yang bersumber pada kodrat manusia dan berkaitan dengan perilaku baik/buruk secara moral.
NORMA Norma Sosial Aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat; norma berfungsi mengatur dan mengendalikan perilaku masyarakat demi terciptanya keteraturan sosial. Norma menjadi panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku.
NORMA Cara (Usage) Tingkatan norma paling lemah; norma yang daya pengikatnya paling rendah karena pelanggaran hanya mendapat sanksi berupa cemoohan dari masyarakat. Contoh: bersendawa atau meludah sembarangan.
NORMA Kebiasaan (Folkways) Tingkatan norma di atas cara; perbuatan yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi bukti bahwa orang yang melakukannya menyukai dan menyadari perbuatannya. Contoh: mengetuk pintu sebelum masuk.
NORMA Tata Kelakuan (Mores) Aturan yang sudah diterima masyarakat secara sadar atau tidak sadar dan dijadikan alat pengawas atau kontrol terhadap anggota-anggota masyarakat. Contoh: larangan kejahatan.
NORMA Adat Istiadat (Costum) Tingkatan norma tertinggi; norma yang umumnya tidak tertulis, tetapi memiliki sanksi baik langsung maupun tidak langsung berupa sikap penolakan dari masyarakat. Contoh: hukum adat.
LEMBAGA Lembaga Sosial (Koentjaraningrat) Suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia.
LEMBAGA Lembaga Sosial (Paul Horton & Chester Hunt) Sistem norma-norma sosial dan hubungan-hubungan yang menyatukan nilai-nilai dan prosedur-prosedur tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
LEMBAGA Fungsi Manifest Fungsi lembaga sosial yang disadari dan menjadi harapan masyarakat; fungsi yang direncanakan dan diakui secara terbuka.
LEMBAGA Fungsi Laten Fungsi lembaga sosial yang tidak disadari dan tidak diharapkan oleh masyarakat; muncul sebagai efek samping yang tidak direncanakan.
LEMBAGA Memiliki Simbol Sendiri Karakteristik lembaga sosial: setiap lembaga sosial memiliki simbol atau lambang yang menjadi identitasnya.
LEMBAGA Memiliki Tata Tertib dan Tradisi Karakteristik lembaga sosial: lembaga memiliki aturan tata tertib serta tradisi tertulis maupun tidak tertulis yang menjadi pedoman anggotanya.
LEMBAGA Usianya Lebih Lama Karakteristik lembaga sosial: lembaga sosial cenderung bertahan lebih lama dari individu yang menjadi anggotanya; bersifat permanen.
LEMBAGA Memiliki Alat Kelengkapan Karakteristik lembaga sosial: lembaga memiliki alat-alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga.
LEMBAGA Memiliki Ideologi Karakteristik lembaga sosial: lembaga sosial memiliki seperangkat keyakinan, gagasan, atau ideologi yang menjadi dasar eksistensinya.
LEMBAGA Memiliki Tingkat Kekebalan / Daya Tahan Karakteristik lembaga sosial: lembaga sosial memiliki ketahanan terhadap perubahan dan tekanan dari luar.
TIPE-TIPE Crescive Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut perkembangan: lembaga sosial yang secara tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Contoh: lembaga perkawinan, hak milik, dan agama.
TIPE-TIPE Enacted Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut perkembangan: lembaga sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh: lembaga pendidikan.
TIPE-TIPE Basic Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut nilai: lembaga sosial yang penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Contoh: keluarga, sekolah, dan negara.
TIPE-TIPE Subsidiary Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut nilai: lembaga sosial yang berkaitan dengan hal yang dianggap oleh masyarakat kurang penting. Contoh: lembaga rekreasi.
TIPE-TIPE Approved / Sanctioned Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut penerimaan masyarakat: lembaga yang diterima oleh masyarakat. Contoh: lembaga sekolah dan perusahaan dagang.
TIPE-TIPE Unsanctioned Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut penerimaan masyarakat: lembaga yang ditolak masyarakat meskipun masyarakat tidak mampu memberantasnya. Contoh: sindikat kejahatan, perjudian.
TIPE-TIPE General Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut nilai yang diterima: lembaga sosial yang dikenal dan diterima oleh sebagian besar masyarakat dunia. Contoh: lembaga agama.
TIPE-TIPE Restricted Institution Tipe lembaga berdasarkan sudut nilai yang diterima: lembaga sosial yang hanya dikenal oleh masyarakat tertentu. Contoh: lembaga agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha.
TIPE-TIPE Operative Institution Tipe lembaga berdasarkan fungsi sosial: lembaga yang berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu.
TIPE-TIPE Regulative Institution Tipe lembaga berdasarkan fungsi sosial: lembaga yang berfungsi untuk mengatur perilaku masyarakat. Contoh: pengadilan.
LEMBAGA Lembaga Keluarga Unit sosial terkecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak; memiliki fungsi majemuk bagi terciptanya kehidupan sosial dalam masyarakat.
LEMBAGA Nuclear Family (Keluarga Batih/ Somah) Jenis keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum kawin; disebut juga keluarga inti.
LEMBAGA Extended Family (Keluarga Besar) Jenis keluarga yang merupakan ikatan keluarga dalam satu keturunan, mencakup kakek, nenek, ipar, paman, bibi, anak, cucu, dan sebagainya.
LEMBAGA Keluarga Campuran Jenis keluarga yang terdiri dari beberapa keluarga inti yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga.
LEMBAGA Fungsi Reproduksi (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: melanjutkan keturunan sebagai generasi penerus.
LEMBAGA Fungsi Sosialisasi (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: menanamkan nilai dan norma masyarakat kepada anggota keluarga, terutama anak.
LEMBAGA Fungsi Ekonomi (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: memenuhi kebutuhan pokok seluruh anggota keluarga.
LEMBAGA Fungsi Pengawasan Sosial (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: mengawasi pelaksanaan nilai dan norma oleh anggota keluarga.
LEMBAGA Fungsi Proteksi / Perlindungan (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: memberikan perlindungan fisik dan psikologis kepada seluruh anggota keluarga.
LEMBAGA Fungsi Pemberian Status (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: memberikan status kepada anggota keluarga, ditandai antara lain dengan adanya akte kelahiran.
LEMBAGA Fungsi Afeksi (Keluarga) Fungsi manifest keluarga: memberikan kasih sayang kepada seluruh anggota keluarga.
LEMBAGA Fungsi Laten Keluarga Fungsi keluarga yang tidak disadari; antara lain memelihara nama baik keluarga, menjaga harta keluarga, dan menjaga gelar/ status yang dimiliki.
BENTUK-BENTUK Monogami Bentuk perkawinan menurut jumlah pasangan: satu suami menikah dengan satu istri.
BENTUK-BENTUK Poligami Bentuk perkawinan menurut jumlah pasangan: seorang suami/istri menikah dengan lebih dari satu pasangan; mencakup poligini dan poliandri.
BENTUK-BENTUK Poligini Bentuk poligami: satu suami menikah dengan lebih dari satu istri.
BENTUK-BENTUK Poliandri Bentuk poligami: satu istri menikah dengan lebih dari satu suami.
BENTUK-BENTUK Endogami Bentuk perkawinan menurut asal pasangan: perkawinan yang terjadi dalam kelompok/ suku sendiri (menikah sesama anggota kelompok yang sama).
BENTUK-BENTUK Eksogami Bentuk perkawinan menurut asal pasangan: perkawinan yang terjadi di luar kelompok/ suku sendiri.
BENTUK-BENTUK Homogami Bentuk perkawinan menurut hubungan kekerabatan: perkawinan antara dua orang yang memiliki kesamaan latar belakang (sosial, agama, dll).
BENTUK-BENTUK Heterogami Bentuk perkawinan menurut hubungan kekerabatan: perkawinan antara dua orang yang berbeda latar belakang.
BENTUK-BENTUK Sororat Perkawinan di mana seorang duda menikahi saudara perempuan dari istri yang meninggal.
BENTUK-BENTUK Non Sororat Perkawinan di mana seorang duda menikahi wanita di luar saudara perempuan dari istri yang meninggal.
BENTUK-BENTUK Fraternal Perkawinan di mana seorang janda menikahi saudara laki-laki dari suami yang meninggal.
BENTUK-BENTUK Non Fraternal Perkawinan di mana seorang janda menikahi pria di luar saudara laki-laki dari suami yang meninggal.
BENTUK-BENTUK Cross Cousin (Sepupu Silang) Perkawinan antara anak dari saudara laki-laki dengan anak dari saudara perempuan.
BENTUK-BENTUK Parallel Cousin (Sepupu Sejajar) Perkawinan antara anak dari dua saudara laki-laki atau dua saudara perempuan.
LEMBAGA Lembaga Pendidikan Lembaga sosial yang menyelenggarakan pendidikan formal maupun informal untuk mempersiapkan anggota masyarakat menghadapi kehidupan.
LEMBAGA Pendidikan Formal Pendidikan yang berlangsung di sekolah secara berjenjang dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi.
LEMBAGA Pendidikan Informal Pendidikan yang terjadi di dalam keluarga; proses belajar yang tidak terstruktur seperti di sekolah.
LEMBAGA Fungsi Manifest Lembaga Pendidikan Fungsi pendidikan yang disadari: mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah, mengembangkan bakat demi kepuasan pribadi dan masyarakat, melestarikan kebudayaan, serta menanamkan keterampilan partisipasi demokrasi.
LEMBAGA Fungsi Laten Lembaga Pendidikan Fungsi pendidikan yang tidak disadari: mengurangi pengendalian orangtua, mempertahankan sistem kelas sosial, memperpanjang masa remaja, dan menyediakan sarana pembangkangan.
LEMBAGA Lembaga Ekonomi Lembaga sosial yang mengatur cara-cara manusia memenuhi kebutuhan hidup melalui produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa; tumbuh sejak manusia mulai melakukan barter secara rutin.
LEMBAGA Fungsi Manifest Lembaga Ekonomi Memberi pedoman untuk mendapatkan bahan pangan, memberikan pedoman penggunaan tenaga kerja dengan cara pengupahan, memberikan pedoman pertukaran barang dan jasa, serta memberikan pedoman tentang cara pemutusan kerja.
LEMBAGA Fungsi Laten Lembaga Ekonomi Fungsi yang tidak disadari: menyebabkan kerusakan lingkungan alam dan mengubah pola pemukiman masyarakat.
LEMBAGA Lembaga Politik Lembaga sosial yang berkaitan dengan masalah-masalah bentuk negara, bentuk pemerintahan, bentuk kekuasaan, serta sistemnya.
LEMBAGA Fungsi Manifest Lembaga Politik Mengatur proses politik, mengusahakan kesejahteraan umum, memelihara ketertiban di dalam, serta menjaga pertahanan dan keamanan dari ancaman luar.
LEMBAGA Fungsi Laten Lembaga Politik Fungsi yang tidak disadari: sebagai sarana melanggengkan kekuasaan dan meningkatkan sikap demokrasi masyarakat.
LEMBAGA Lembaga Agama Agama merupakan sarana bagi manusia untuk berhubungan dengan Sang Pencipta sehingga manusia senantiasa mendekatkan diri pada-Nya; lembaga yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan.
LEMBAGA Fungsi Manifest Lembaga Agama Memberikan pedoman bagi para pemeluknya, memberikan pedoman keyakinan, mengajarkan kebenaran bagi para pemeluknya, dan mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhannya.
LEMBAGA Fungsi Laten Lembaga Agama Mengajarkan hidup harmonis, mengajarkan dogma bagi pemeluknya, dan dapat menjadi alasan berkonflik antar kelompok.
PERAN Sosialisasi Proses di mana setiap individu sebagai anggota masyarakat menerima aturan dan nilai yang telah ada dalam masyarakat sebagai standar perilaku; dilakukan oleh lembaga sosial seperti keluarga dan pendidikan.
PERAN Penyimpangan Sosial Perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam masyarakat; bersumber pada pergaulan dengan orang yang berperilaku menyimpang (Sutherland). Contoh: siswa terlibat tawuran karena berteman dengan siswa yang suka berkelahi.
PERAN Pengendalian Sosial Upaya yang dilakukan untuk menjaga kesesuaian perilaku anggota masyarakat dengan norma yang berlaku; dapat dilakukan melalui berbagai cara.
PERAN Pengendalian Melalui Lisan dan Simbolik Bentuk pengendalian sosial menggunakan kata-kata lisan maupun simbol-simbol tertentu.
PERAN Pengendalian Melalui Kekerasan Bentuk pengendalian sosial dengan menggunakan kekuatan/paksaan fisik.
PERAN Pengendalian Melalui Imbalan dan Hukuman Bentuk pengendalian sosial dengan memberikan hadiah bagi yang patuh norma dan hukuman bagi yang melanggar.
PERAN Pengendalian Melalui Sosialisasi Bentuk pengendalian sosial dengan menanamkan nilai dan norma sejak dini melalui proses sosialisasi.
PERAN Pengendalian Melalui Tekanan Sosial Bentuk pengendalian sosial dengan memanfaatkan tekanan dari lingkungan sosial agar individu mematuhi norma.
PERAN Pengendalian Formal dan Informal Bentuk pengendalian sosial: formal dilakukan oleh lembaga resmi seperti hukum; informal dilakukan melalui mekanisme sosial seperti cemoohan atau pengucilan.
PERAN Keteraturan Sosial Kondisi kehidupan masyarakat yang tertib dan teratur, di mana warga masyarakat berperilaku sesuai norma yang berlaku.
PERAN Tertib Sosial Tahap awal keteraturan sosial: kondisi di mana setiap anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang ada.
PERAN Order Tahap kedua keteraturan sosial: sistem norma dan nilai yang diakui dan dipatuhi oleh warga masyarakat secara konsisten.
PERAN Keajegan Tahap ketiga keteraturan sosial: kondisi di mana pola-pola perilaku yang sama terjadi secara berulang dan konsisten dalam masyarakat.
PERAN Pola Tahap keempat keteraturan sosial: gambaran/bentuk umum dari perilaku yang berulang dan ajeg dalam masyarakat.
PERAN Keteraturan Sosial (tahap akhir) Tahap kelima/akhir dalam proses keteraturan sosial: tercapainya keselarasan antara tertib sosial, order, keajegan, dan pola sehingga kehidupan masyarakat menjadi harmonis dan stabil.
PERAN Lembaga Penjaga Ketertiban — Polisi Lembaga sosial yang berperan menjaga ketertiban masyarakat dan menegakkan hukum.
PERAN Lembaga Penjaga Ketertiban — Pengadilan Lembaga sosial yang berperan memberikan keadilan dan menyelesaikan sengketa hukum dalam masyarakat.
PERAN Lembaga Penjaga Ketertiban — Adat Lembaga sosial berbasis tradisi yang berperan mengatur dan mengendalikan perilaku masyarakat sesuai norma adat yang berlaku.
PERAN Lembaga Penjaga Ketertiban — Tokoh Masyarakat Individu berpengaruh dalam masyarakat yang berperan sebagai panutan dan pengendali perilaku sosial warganya.
PERAN Lembaga Penjaga Ketertiban — Media Massa Lembaga komunikasi yang berperan menyebarkan informasi dan norma sosial serta membentuk opini publik untuk menjaga ketertiban masyarakat.
TOKOH Robert M.Z. Lawang Sosiolog yang mendefinisikan perilaku menyimpang sebagai semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial; juga mendefinisikan nilai sosial sebagai gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, dan berharga.
TOKOH Soerjono Soekanto Sosiolog Indonesia yang mendefinisikan nilai sosial sebagai konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan buruk; nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat.
TOKOH Prof. Notonegoro Tokoh yang membagi nilai menjadi tiga: nilai material, nilai vital, dan nilai kerohanian (kebenaran, keindahan, kebaikan/moral).
TOKOH Koentjaraningrat Antropolog Indonesia yang mendefinisikan lembaga sosial sebagai suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas untuk memenuhi kompleksitas kebutuhan khusus dalam kehidupan manusia.
TOKOH Paul Horton & Chester Hunt Sosiolog yang mendefinisikan lembaga sosial sebagai sistem norma-norma sosial dan hubungan-hubungan yang menyatukan nilai-nilai dan prosedur-prosedur tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
TOKOH Edwin H. Sutherland Kriminolog dan sosiolog Amerika pencetus Teori Diferential Association; menyatakan penyimpangan sosial dipelajari melalui proses alih budaya dari pergaulan dengan orang yang berperilaku menyimpang.
TOKOH Kurikulum Merdeka Kurikulum yang digunakan sebagai dasar materi Sosiologi SMA/MA Kelas X, Bab 4: Lembaga Sosial, menggunakan buku IPS Sosiologi Erlangga oleh Kun Maryati, Juju Suryawati, dan Nina R. Suminar.